Semangat Hidup Penyintas Hemofilia Bersama JKN-KIS

Penulis : Humas Dibaca : 278 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 24 May 2019 14:46:12

Madiun – Semangatnya untuk tetap bekerja sangatlah tinggi, meskipun terkadang kondisi fisiknya kurang bersahabat. Ialah Febriyanto Gozali (30), pemuda yang sejak kecil diketahui menderita penyakit hemofilia.

 

Febri, begitu sapaan akrabnya, merupakan anak kedua dari dua bersaudara di keluarganya. Beruntung sang kakak tidak juga menderita penyakit serupa. Seperti kita ketahui bahwa hemofilia merupakan penyakit bawaan yang dapat diturunkan  karena mutasi gen yang mengakibatkan perubahan dalam untaian DNA (kromosom) sehingga membuat proses dalam tubuh tidak berjalan normal.

 

“Awalnya kelas 1 SD dulu pernah jatuh, mulut saya berdarah dan enggak berhenti darahnya. Diperiksakan ke dokter sampai dirujuk ke beberapa rumah sakit dan akhirnya diinformasikan kalau ternyata hemofilia,” cerita Febri.

 

Sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) dari segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari pemerintah daerah Febri sangat bergantung pada keberlangsungan program JKN-KIS ini. Hal itu karena Febri setiap dua minggu sekali harus melakukan kontrol dan mendapatkan terapi suntikan yang sangat penting bagi dirinya agar bisa beraktivitas kembali dengan normal.

 

“Kalau tidak pakai JKN-KIS saya tidak mampu untuk membiayai pengobatan yang rutin ini. Membayangkan untuk biaya transportasi dari rumah ke rumah sakit saja sudah lumayan banyak, gimana kalau harus memikirkan biaya berobatnya, bisa dibilang tidak akan sanggup saya. Makanya bersyukur sekali ada program JKN-KIS sehingga saya bisa berobat rutin tanpa perlu memikirkan biayanya,”  katanya.

 

Kondisi ekonomi keluarga Febri membuatnya harus tetap bersemangat dan mempunyai keyakinan bahwa hemofilia bukan penghalang baginya untuk terus berjuang membantu kedua orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

“Dulu saya sempat jadi sales, tapi karena pekerjaannya harus selalu keliling, akhirnya saya sering kelelahan sampai-sampai terjadi pendarahan di kepala. Setelah itu orangtua saya melarang untuk bekerja sebagai sales. Tapi saya juga mikir enggak mungkin selamanya hanya bergantung sama orang tua, ya akhirnya saya terpikir untuk membuka usaha kecil-kecilan di rumah seperti ini,” ceritanya sembari menunjukkan usaha warung kelontong dan penyewaan play station.

 

Dirinya merasa beruntung masih diberikan nikmat kesehatan meskipun itu harus didapatnya dengan rajin dan telaten melakukan pengobatan. ia juga yakin di luar sana masih ada orang-orang yang kondisinya jauh lebih buruk dari dirinya dan membuat ia harus mensyukuri kondisinya saat ini.

 

“Program JKN-KIS selalu mendampingi saya dalam melawan sakit yang selama ini bersama saya, saya harusnya bersyukur dan tidak malas-malasan untuk berobat. Karena seluruh biaya pengobatan sudah dijamin oleh Program JKN-KIS. Saya hanya ingin seperti teman-teman seusia saya, bisa bekerja, bisa punya uang sendiri dan tidak menyusahkan orang tua. Jadi saya harus tetap bersemangat menikmati hidup sebagai penderita hemofilia, agar saya bisa tetap membanggakan orang tua. Terima kasih JKN-KIS yang telah membuat saya besemangat dan bertahan memperjuangkan kesehatan saya,” tutupnya. (ar/tk)



File :