Jangan Khawatir, BPJS Kesehatan Menjamin Deteksi Sebelum Kanker Serviks Menyerang

Penulis : rg Dibaca : 76466 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 17 Sep 2014 17:06:01

Kita tak pernah tahu kapan penyakit datang menghampiri diri kita. Begitu juga dengan kanker leher rahim atau serviks yang seakan datang tiba-tiba karena penyakit berbahaya ini menyerang tanpa gejala khusus, sehingga seringkali penderita merasa sakit jika kanker serviks yang bersarang di tubuhnya itu sudah mencapai stadium lanjutan.

Di Indonesia, setiah hari terdapat 40 kasus baru dan setiap satu jam, satu wanita meninggal karena kanker serviks. Oleh karena itu, perlu upaya pencegahan dan pengobatan untuk mengatasi kanker serviks. Kanker Serviks disebabkan oleh human papiloma virus (HPV) yang menular antara lain karena pola hidup tidak sehat, sering berganti-ganti pasangan, hubungan seksual sebelum berusia 20 tahun, dan pengaruh nikotin.

Terkait kebersihan diri, virus HPV bisa berpindah dari tangan seseorang yang menyentuh daerah genital kemudian virus menyerang leher rahim. Kloset pun bisa menjadi sumber penularan kanker serviks. Jika closet di toilet umum terdapat virus penyebab kanker serviks dari penderita yang menggunakan closet tersebut, maka virus HPV bisa berpindah ke daerah genital kita. Oleh karena itu, pastikan closet umum yang akan kita gunakan dalam keadaan bersih.

Gaya hidup yang kurang sehat dapat menjadi pemicu meningkatnya jumlah penderita kanker ini. Kebiasaan merokok, kurang mengkonsumsi vitamin C, vitamin E ,dan asam folat juga dapat menjadi pemicu berkembangnya virus HPV. Dengan mengkonsumsi makanan bergizi akan membuat daya tahan tubuh meningkat sehingga mampu mengusir virus HPV.

Pada tahap awal kanker serviks sering tidak terdeteksi sama sekali kecuali terjadi infeksi dengan tanda seperti keputihan. Bisa juga diketahui setelah terjadi pendarahan vagina di luar masa menstruasi, keluhan sakit pendarahan setelah berhubungan intim dan infeksi saluran pada kandung kemih.  Pada stadium lanjut mengakibatkan rasa sakit pada panggul, pendarahan, nafsu makan hilang, berat badan menurun, anemia karena pendarahan.

Proses terjadinya kanker serviksmembutuhkan waktu yang lama yaitu antara 10 hingga 20 tahun setelah terinfeksi HPV. Sehingga wajar saja, pada tahap awal perkembangannya, kanker serviks sulit dideteksi. Untuk itu, perempuan disarankan untuk melakukan papsmear minimal dua tahun sekali dan melalukan tes IVA (inspeksi visual dengan asam asetat).

Pemeriksaan pap smear adalah pemeriksaan dengan mengambil contoh sel-sel leher rahim, kemudian dianalisa untuk mendeteksi dini kanker leher rahim.  Melalui papsmear bisa ditemukan adanya infeksi HPV dan sel-sel yang abnormal yang dapat berubah menjadi sel kanker. Jika diketahui sejak dini atau tahap awal infeksi, maka dapat segera dilakukan tindakan pencegahan dan pengobatan agar tidak menjadi lebih parah lagi.

Pap smear dianjurkan dilakukan oleh setiap perempuan, utamanya yang sudah berkeluarga dan sudah pernah melahirkan. Pemeriksaan papsmear secara rutin merupakan langkah pencegahan kanker serviks.

Pap smear sebaiknya dilakukan sekitar 5 hari setelah haid atau menstruasi atau 10 hingga 20 hari setelah hari pertama haid, agar leher rahim bersih dari sisa-sisa darah haid.   Selain itu, disarankan dua hari sebelum pap smear, sebaiknya sebaiknya tidak membersihkan vagina dengan krim atau sabun apa pun, dan tidak melakukan penyemprotan obat atau larutan tertentu ke arah liang vagina.

Sebelum pap smear hindari penggunaan tampon atau obat-obatan yang dimasukkan ke dalam vagina, misalnya jeli untuk KB dan menghindari dahulu hubungan intim suami istri. Sebaiknya tidak mandi berendam menjelang pap smear, karena dikhawatirkan ketika berendam ada sisa-sisa sabun yang tertinggal atau masuk ke vagina.

Jika Anda keputihan, beritahukan kepada orang yang memeriksa, termasuk semua keluhan yang Anda rasakan. Misalnya terasa gatal-gatal, sakit atau panas (seperti terbakar) di vagina. Dan, jika hasil pap smear yang lalu kurang bagus (abnormal), jangan lupa  memberitahukannya kepada dokter.

.

BPJS Kesehatan Jamin Deteksi Kanker Serviks

Kini, peserta BPJS Kesehatan mendapat kesempatan untuk memeriksakan diri untuk mendeteksi kanker serviks secara dini di fasilitas kesehatan tingkat pertama dan lembaga yang telah bekerjasama dengan BPJS Kesehatan seperti Yayasan Kanker Indonesia. Deteksi dini kanker serviks itu masuk dalam skema pembiayaan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), sehingga peserta tidak perlu membayar biayanya.

Upaya ini merupakan program berbasis managed care yang sudah diterapkan BPJS Kesehatan sejak lembaya ini bernama PT Askes (Persero). Ada empat pilar prinsip dasar di dalam pelaksanaannya, yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Sebagai salah satu upaya mengoptimalisasikan fungsi promotif dan preventif, BPJS Kesehatan melakukan sosialisasi pada masyarakat mengenai pentingnya melakukan deteksi dini kanker leher rahim atau serviks.

Beberapa waktu lalu, BPJS Kesehatan bersama Yayasan Kanker Indonesia mencanangkan Gerakan Deteksi Dini Kanker Leher Rahim, yang dimulai di PT Tuntext Garment Indonesia Cikupa Tangerang, Banten. Wilayah Tangerang merupakan kota industri yang memiliki sekitar 90 persen pekerjanya adalah perempuan berusia produktif.

Peserta BPJS Kesehatan yang ingin melakukan deteksi dini kanker serviks dapat menandatangani formulir permohonan pelayanan pemeriksaan deteksi kanker di Kantor Cabang BPJS Kesehatan. Selanjutnya, ia bisa mengunjungi fasilitas kesehatan tingkat pertama yang memiliki pelayanan pap smear dan IVA, untuk melakukan pemeriksaan pap smear maupun Inspeksi Visual Asetat (IVA).

Jika dari hasil pemeriksaan IVA peserta tersebut terdiagnosa menderita kanker serviks, maka dapat dilakukan krioterapi. Krioterapi adalah metode pengobatan kanker leher rahim dengan melakukan perusakan sel-sel pra-kanker dengan cara dibekukan (dengan membentuk bola es pada permukaan leher rahim). Tindakan ini dapat dilakukan di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas oleh dokter umum/dokter spesialis kebidanan yang terlatih. Selanjutnya, peserta BPJS Kesehatan dapat memperoleh pengobatan lebih lanjut jika diperlukan.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia Nila F Moeloek mengatakan, kasus penyakit kanker yang paling banyak ditemui adalah kanker payudara dan kanker leher rahim (serviks). Oleh sebab itu, edukasi dan pencegahan kanker jenis ini harus terus disosialisasikan. Selain memberikan bantuan pengobatan, YKI juga mengupayakan program preventif dengan menggalakkan tes kanker serviks secara gratis.

Tes Pap Smear dan inspeksi visual asam asetat (IVA) merupakan cara praktis deteksi dini kanker serviks. Kerjasama YKI dengan BPJS Kesehatan mempunyai sasaran untuk memberikan tes IVA gratis untuk 5 juta orang dan papsmear gratis untuk 1,6 juta orang. Program ini telah bergulir sejak Juni 2014.

Klinik Citra Medika, salah satu provider BPJS Kesehatan di Kota Salatiga juga telah bekerjasama dengan Laboratorium Klinik Prodia yang memiliki program peduli terhadap perempuan dan kanker serviks. Bagi pasien peserta BPJS Kesehatan di klinik tersebut dapat mengajukan permohonan untuk mengikuti tes Paps Smear dengan syarat wanita, peserta BPJS Kesehatan berusia 30 tahun dan telah menikah, mengajukan permohonan untuk dilakukan tes Paps Smear ke klinik, mengisi Formulir yang telah disediakan BPJS Kesehatan dan Prodia, lalu datang dan mendaftarkan diri ke Laboratorium Klinik Prodia. Biaya gratis karena ditanggung oleh BPJS Kesehatan.(pur)


File :