Sulaiman Hamid: Diabetes Melitus Berujung Gagal Ginjal

Penulis : Humas Dibaca : 307 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 04 Dec 2017 06:00:19
Penyakit Diabetes Melitus (DM) seringkali menyebabkan berbagai komplikasi serius. Dalam jangka panjang, komplikasi yang ditimbulkan salah satunya adalah gagal ginjal kronik. Komplikasi ini timbul akibat kurang disiplinnya melakukan pengobatan, dan juga tidak menerapkan gaya hidup sehat. 

Seperti yang dialami Sulaiman Hamid (59 tahun) asal Cinere, Depok. Penyakit Diabetes Melitus yang menyerangnya sejak tahun 1999, kini mulai menggerogoti fungsi ginjalnya. Selain harus berjuang menstabilkan kadar gula darahnya, Sulaiman kini juga harus rutin menjalani cuci darah.

Diakui Sulaiman, ketika kadar gula darahnya yang tinggi mulai terdeteksi, ia memang tidak langsung menjalani pengobatan. Pikirnya, penyakit yang dideritanya itu akan hilang dengan sendiri kalau ia mengubah gaya hidupnya menjadi lebih sehat. Namun diakui Sulaiman, tidak mudah untuk konsisten menjalani gaya hidup tersebut. Seringkali ia tergoda untuk mengonsumsi makanan yang seharusnya dipantang. Latihan fisik juga tidak lagi rutin dilakukan. 

Penyakit yang menyerang diam-diam itu pada akhirnya menjadi bencana. Puncaknya terjadi pada tahun 2010 ketika kadar gula darahnya mencapai 600 mg/dL. “Di tahun itu, saya dirawat cukup lama di Rumah Sakit Puri Cinere. Dokter bilang, saya masih beruntung karena bisa selamat dan masih sadar. Padahal gula darahnya sudah sampai 600,” cerita Sulaiman.

Sejak kejadian itu, Sulaiman akhirnya tersadar dan mulai rutin menjalani pengobatan serta suntik insulin. Agar fisiknya selalu bugar, ia juga mengikuti latihan pernapasan Mahatma. Kedisiplinan ini membuat kondisinya berangsur-angsur membaik.  

Komplikasi Gagal Ginjal Kronik
Di akhir tahun 2012, Sulaiman bersama istri memutuskan untuk pindah ke Pontianak, Kalimantan Barat. Namun di kampung halamannya tersebut, ia kembali lalai menjalani pengobatan. Karena merasa sudah tidak ada lagi keluhan yang memberatkan, ia memutuskan untuk menghentikan suntik insulin. 

Kelalaiannya ini membuat penyakitnya semakin parah. Organ tubuh lainnya juga ikut rusak. Untuk yang kedua kalinya Sulaiman harus dilarikan ke rumah sakit. Kondisinya semakin terpuruk setelah ia ditinggal istrinya yang meninggal akibat stroke pada tahun 2015. Berulang kali ia masuk rumah sakit akibat kondisi penyakitnya itu.

Pada Februari 2017, barulah diketahui kalau penyakitnya sudah menyebabkan komplikasi serius, bahkan telah merusak fungsi ginjalnya. Komplikasi ini diketahui saat Sulaiman dilarikan ke IGD RSUD Pasar Minggu. Dokter mengatakan fungsi ginjalnya sudah sangat rendah. Ia mengalami Chronic Kidney Disease (CKD) stadium 5 dan harus menjalani cuci darah sepanjang hidupnya.

“Saya tidak pernah mengira akan mengalami gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah. Andaikan saat itu saya lebih disiplin menjalani pengobatan, mungkin tidak akan mengalami hal seperti ini. Tapi, semuanya sudah terjadi. Saya harus ikhlas menerimanya,” tutur Sulaiman. 

Cuci Darah dengan Kartu JKN-KIS
Berulang kali mengalami masa-masa sulit akibat kelalaian yang dibuatnya sendiri, Sulaiman kini bertekad untuk lebih disiplin menjalani pengobatan dan hidup lebih sehat. Selain berobat untuk mengontrol gula darahnya, ia kini rutin menjalani cuci darah dua kali seminggu di RS Setia Mitra di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan.

Setelah ada program JKN-KIS, diakui Sulaiman biaya pengobatan penyakitnya itu tidak lagi memberatkan. Sebelum terdaftar sebagai peserta mandiri program JKN-KIS, Sulaiman merupakan peserta asuransi kesehatan khusus para pensiunan dari tempatnya dulu bekerja. Adanya asuransi ini diakuinya cukup membantu. Namun memang, ada beberapa katergori obat yang tidak ditanggung oleh pihak asuransi dan juga plafon yang terbatas. Sehingga tak jarang ia harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan berobat, sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga . Prinsip gali lubang tutup lubang sudah tak asing lagi untuk menutupi kebutuhannya kala itu.

“Setelah ada program JKN-KIS, alhamdulillah beban saya dan keluarga jadi berkurang. Apalagi sekarang kan saya harus rutin menjalani cuci darah yang biayanya sangat mahal. Tidak terbayang betapa susahnya kalau saya belum menjadi peserta JKN-KIS, apalagi untuk pensiunan seperti saya,” tutur Sulaiman.

File :