Sempat Pesimis, Semangat Penderita Hemofilia Ini Kembali Bangkit

Penulis : Humas Dibaca : 480 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 02 Jun 2018 00:00:00
Serang (02/05/2018) - Raditya Suria Atmaja (15), anak kedua dari pasangan Sahroni dan Karlina ini harus terbaring lemas di kamarnya. Sejak usia 8 tahun, ia sudah menderita penyakit hemofilia. Kini, ia sudah duduk di bangku kelas 3 SMP IT Ibadurahman Ciruas.

Hemofilia adalah suatu penyakit yang menyebabkan gangguan perdarahan karena kekurangan faktor pembekuan darah. Akibatnya, perdarahan berlangsung lebih lama saat tubuh mengalami luka. Dalam keadaan normal, protein yang menjadi faktor pembeku darah membentuk jaring penahan di sekitar platelet (sel darah) sehingga dapat membekukan darah dan pada akhirnya menghentikan perdarahan. Pada penderita hemofilia, kekurangan protein yang menjadi faktor pembeku darah tersebut mengakibatkan perdarahan terjadi secara berkepanjangan.

Karlina (49), menceritakan memiliki anak yang punya penyakit hemofilia merupakan hal terpedih dalam hidupnya. Sebab penyakit hemofilia belum ada obat khusus yang menyembuhkan anaknya. Jadi ia harus rela mengorbankan waktunya untuk terus merawat anaknya supaya bertahan hidup. Apalagi biaya pengobatan untuk hemofilia butuh biaya yang besar.

"Saya sedih banget, ketika anak saya ini sering merasa sakitnya kambuh. Sementara saya juga secara ekonomi tidak mampu untuk mengobatinya ke rumah sakit. Sebab suami saya sudah di PHK dari perusahaanya. Jadi bingung mau berobat ke rumah sakit,'' ujarnya saat ditemui di kediamannya di Taman Ciruas Permai, Kabupaten Serang.

Dikatakan Karlina, untuk sekali mengobati anaknya, ia harus menyediakan dana untuk berobat sebesar delapan juta rupiah, sementara penghasilan ia hanya empat juta rupiah sebulan. Meskipun begitu ia terus berupaya mencari solusi untuk membawa anaknya ke rumah sakit.

"Saya dan suami saya rela meminta dan bolak-balik ke kelurahan untuk mendapat surat keterangan tidak mampu. Namun petugas kelurahan mengarahkan untuk mendaftakan anaknya mengikuti program jaminan kesehatan JKN-KIS," ujarnya.

Karlina mengaku bersyukur karena saat ini anaknya sudah terdaftar sebagai Penerima Bantuan Iuran (PBI) JKN- KIS. Menurutnya program pemerintah ini sangat menolongnya. Program JKN-KIS begitu nyata ketika ada orang yang tak punya biaya jadi terbantu.

"Sifat gotong royong begitu terasa, jika program JKN -KIS gak ada, saya gak tahu harus dapat bantuan dari mana lagi,” ungkap Karlina.

Saat ini Karlina dan suaminya bekerja sebagai penjual pakaian keliling di komplek-komplek perumahan. Ia mengatakan sangat tidak mungkin bisa membiayai anaknya ke rumah sakit lagi kalau tidak ada program JKN-KIS.

"Dari hasil jualan saya dan suami gak akan cukup untuk biaya rawat jalan anak saya. Kalau dihitung sudah ratusan juta keluar duit dari JKN-KIS saya gak punya uang sebanyak itu. Jadi alhamdulilah ada JKN-KIS, harapan saya ke depannya program JKN-KIS terus berlanjut karena sejak ada JKN-KIS sudah banyak menolong orang yang gak mampu berobat, untuk faskes jangan merasa bosan untuk menerima peserta BPJS Kesehatan, ketika peserta JKN-KIS sering berobat ke faskes yang dituju," tutupnya.

File :