Sempat Minder ke Rumah Sakit, Tukang Bengkel Ini Sujud Syukur Gratis Berobat Dengan JKN-KIS

Penulis : Humas Dibaca : 1657 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 14 Apr 2019 00:00:00

Soreang, (14/04/2019)– BPJS Kesehatan terus berupaya menyempurnakan pelayanan kepada peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Tak ayal, kepuasan peserta pun meningkat dari waktu ke waktu. Salah satunya dirasakan oleh Suparno (45).

Pria yang sehari-harinya bekerja di sebuah bengkel di Soreang, Kabupaten Bandung ini mengatakan, ia pernah melihat sendiri bagaimana pelayanan yang diberikan rumah sakit kepada anaknya yang saat itu menderita penyakit demam berdarah. Sebagai peserta JKN-KIS mandiri kelas 3, dirinya sempat mengaku minder ketika akan berobat ke rumah sakit. Saat itu, ia ragu dirinya akan dilayani dengan baik oleh rumah sakit.

“Saya bingung waktu itu ketika anak kedua sakit panas, demam, sampai menggigil. Ya namanya orang tua pasti khawatir, takut kenapa-kenapa. Akhirnya saya bawa anak saya ke dokter klinik menggunakan JKN-KIS. Katanya anak saya sakit demam berdarah. Lalu saya dirujuk ke rumah sakit. Di situ saya sempat ragu, nanti kalau pelayanannya susah bagaimana, ditambah lagi saya khawatir ada biaya tambahan ini itu," ucap Suparno.

Karena sempat ragu, dokter klinik pun meyakinkannya hingga Suparno memberanikan diri membawa anaknya ke rumah sakit. Awalnya Suparno takut tidak dapat dilayani dengan baik di rumah sakit. Ia berpikir, peserta JKN-KIS kelas 3 bakal berbeda dengan yang kelas 2 ataupun kelas 1 atau dengan pasien umum maupun pasien dari asuransi kesehatan lainnya. Ternyata setelah ia rasakan tidak ada perbedaan, semuanya dilayani dengan baik.

"Mulai dari petugas administrasi, dokter, suster, semuanya baik. Tak sekalipun kami merasa dibedakan perlakuannya dengan pasien yang bayar dengan biaya sendiri. Alhamdulillah semuanya dimudahkan dan dilancarkan," ungkapnya senang.

Sementara anaknya dilayani, ia pun sempat memikirkan jika nantinya ia harus mengeluarkan uang banyak untuk membiayai pengobatan sang anak.

"Selama dirawat inap 6 hari di rumah sakit, saya terus berpikir, aduh uang dari mana buat bayarnya, tapi mau gimana lagi, anak saya kan juga perlu diobati, dan solusi yang saya pikir saat itu ya siap-siap cari pinjaman uang ke saudara atau tetangga," ungkap Suparno lirih.

Setelah anaknya sehat dan sudah diperbolehkan pulang, Suparno mulai mengurus administrasi untuk kepulangan anaknya dengan penuh rasa khawatir. Dirinya was-was harus membayar mahal biaya pengobatan anaknya.

"Ternyata kata petugas rumah sakit, tagihan anak saya nol rupiah alias gratis. Saya sempat tidak percaya. Sampai saat mau pulang, saya tanya lagi ke bagian kasirnya, apa betul ini tidak harus bayar. Lalu kata kasirnya tidak, karena sudah pakai Kartu Indonesia Sehat (KIS) jadi semuanya ditanggung BPJS Kesehatan. Di situ saya langsung sujud syukur. Lega sekali rasanya dan sangat bersyukur atas semua kemudahan dibalik musibah sakit yang anak saya rasakan. BPJS Kesehatan mah juara, makin top pelayanannya. Terus jaya BPJS Kesehatan, agar dapat menolong semua masyarakat,” kata Suparno. (BS/ir)


File :