Manfaatkan JKN-KIS, Penjual Mie Rebus Bebas dari Tumor Seberat 2Kg

Penulis : Humas Dibaca : 606 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 20 May 2019 08:50:18

Tapanuli Selatan, Jamkesnews - Awalnya Juminar Pohan (38), warga Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan tidak pernah memperdulikan benjolan-benjolan yang tumbuh di sekitar perutnya. Kala itu, Juminar menduga benjolan tersebut hanya bisul atau bengkak biasa. Karena tidak terasa sakit ia memilih untuk mengabaikan benjolan tersebut dan beraktifitas seperti biasa.

Pertengahan tahun 2018, Juminar mulai merasakan keanehan dengan benjolan di perutnya. Alih-alih menghilang, ukuran benjolan tersebut malah  bertambah besar. Ukurannya bervariasi, ada yang hanya sebesar kacang tanah, dan yang paling besar seukuran kepalan tangan orang dewasa. Juminar mulai khawatir dan berkonsultasi dengan bidan kenalannya yang berpraktik tidak jauh dari rumahnya.

Nggak ada rasa sakit, cuma ukuran benjolannya semakin besar dan banyak. Saya ceritakan ke bidan dekat rumah, malah marah-marah dia. Harus segera diobati benjolan ini. Saya disarankannya berobat ke Puskesmas,” cerita Juminar saat menerima kedatangan tim Jamkesnews pada Kamis (02/05) di warungnya.

Keluarga Juminar memang hidup pas-pasan. Suaminya bekerja sebagai supir mobil sewa, sementara dirinya berjualan mie instan rebus untuk membantu perekonomian keluarga. Namun keluarga Juminar patut diacungi jempol, mereka telah terdaftar menjadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) di kelas III sejak tahun 2014. Juminar sadar kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi suami dan anak-anaknya.

Bermodal Kartu Indonesia Sehat (KIS), Juminar akhirnya memeriksakan benjolannya ke Puskesmas Danau Marsabut. Pemeriksaan masih harus dilakukan lebih intensif sehingga Juminar pun dirujuk ke RSUD Tapanuli Selatan.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, Dokter RSUD Tapanuli Selatan mengonfirmasi benjolan tersebut merupakan tumor jinak dan merujuk Juminar ke RSUD Adam Malik untuk segera dilakukan operasi pengangkatan tumor.

Di RSUD Adam Malik, Juminar di opname selama empat hari. Pengangkatan tumor dilakukan secara bertahap dalam tiga kali tindakan operasi. Dokter mengatakan kepadanya tumor yang berhasil diangkat memiliki berat lebih dari 2Kg.

Juminar akhirnya merasa lega, tumor yang selama ini membebaninya saat beraktivitas telah diangkat.  Juminar diperbolehkan pulang pada hari keempat, dilanjutkan dengan berobat jalan di Sipirok.

“Mendengar kata operasi saya sempat terkejut. Dulu sewaktu belum ada JKN-KIS saya pernah berobat tumor sebagai pasien umum, dulu itu saya kena 3,5 jutaan hanya untuk berobat jalan saja. Tapi untunglah kini sudah ada JKN-KIS sehingga biaya operasi dijamin sesuai prosedur. Kalau tidak ada kami tidak akan sanggup bayar biaya operasinya sendiri. Berobat dari Puskesmas Sipirok sampai operasi di RSUD Adam Malik di Medan tidak dipungut satu rupiah pun. Semuanya lancar, saya tunjukkan KIS sama surat rujukan langsung dilayani,” kata Juminar.

Juminar mengatakan Program JKN-KIS sangat membantu dan dibutuhkan masyarakat, Juminar pun berharap Program JKN-KIS terus berjalan, dan membantu masyarakat memperoleh akses pelayanan kesehatan yang baik dan terjangkau.

“Biaya pelayanan kesehatan itu sangat mahal. Saya tau karena sudah merasakan. Saya sendiri berobat pakai JKN-KIS sembuh. Yang penting sabar saja karena Peserta JKN-KIS itu kan banyak,  dan semua butuh pelayanan. Yang paling penting bayar iuran, ikuti ketentuan, mudah-mudahan semua lancar,” tutup ibu dua orang anak tersebut. (hf/fz)


File :