Cara Abdi Menolong Sesama Dengan JKN-KIS

Penulis : Humas Dibaca : 733 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 09 Jun 2019 07:32:00

Samarinda, Jamkesnews - Sehat merupakan keadaan yang tidak hanya terbebas dari penyakit akan tetapi meliputi juga seluruh aspek kehidupan manusia yaitu aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual. Dalam menjalani kehidupan, setiap manusia pasti menghendaki selalu dalam keadaan sehat. Sebuah kata bijak mengatakan sehat bukan segala-galanya tapi tanpa kesehatan segala-galanya tidak ada artinya.

Mahalnya biaya berobat sangat menyulitkan masyarakat yang tidak memiliki jaminan kesehatan apabila jatuh sakit, apalagi jika penyakit yang diderita adalah penyakit kronis yang pasti memerlukan biaya besar.

Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan bergotong-royong dan saling membantu seperti yang telah menjadi ciri bangsa ini melalui  program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Semangat gotong-royong tersebut diterapkan dalam pembiayaan kesehatan dimana melalui iuran yang rutin dibayarkan setiap bulan maka peserta yang sehat dapat membantu yang sakit. Demikianlah prinsip gotong royong dalam program JKN-KIS.

Selain untuk perlindungan jaminan kesehatan bagi keluarganya, prinsip gotong royong inilah yang kemudian menarik minat Abdi Kiswanto (37), pria yang berprofesi sebagai seorang wiraswastawan di Kota Samarinda itu untuk menjadi peserta JKN-KIS dari segmen peserta bukan penerima upah (PBPU).

“Program ini (JKN-KIS) adalah program pemerintah yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, saya melihat jutaan orang yang terselamatkan, baik kesehatannya maupun dalam ekonominya. Dengan mahalnya biaya pengobatan yang harus dikeluarkan, tanpa JKN-KIS orang bisa langsung jatuh miskin, belum lagi kalau tidak jadi peserta JKN-KIS berarti tidak ada perlindungan jaminan kesehatan jika sewaktu-waktu kita sakit,” ungkap Abdi.

Ia memiliki pengalaman sebelum menjadi peserta JKN-KIS, saat sang ibu jatuh sakit dan dirawat selama satu minggu di rumah sakit. Biaya yang dikeluarkan cukup mahal walaupun  bukan termasuk penyakit kronis.

“Dari pengalaman itu saya paham pentingnya dan manfaatnya jika menjadi peserta JKN-KIS, setidaknya saya dan keluarga tak perlu kawatir apabila sewaktu-waktu sakit karena sudah punya jaminan, karena sakit tidak bisa diprediksi kapan datangnya,” cerita Abdi saat ditemui di kediamannya pada Kamis (23/05).

Abdi mengaku selama menjadi peserta JKN-KIS ia dan keluarga belum pernah memanfaatkannya untuk berobat.

Alhamdulillah Allah masih memberikan nikmat kesehatan kepada keluarga saya, sehingga selama ini kami belum pernah menggunakan JKN-KIS untuk berobat, tapi saya tetap membayar tepat waktu setiap bulan lho,” ungkap Abdi dengan senyum lebar.

Untuk menjadi peserta JKN-KIS jangan menunggu sakit terlebih dahulu, “Saya mengajak kepada seluruh masyarakat yang belum terdaftar untuk segera mendaftar menjadi peserta JKN-KIS karena sakit tidak tahu kapan datangnya, prinsip JKN-KIS ini adalah gotong-royong, yang sehat membantu yang sakit, untuk itu saya niatkan iuran yang rutin saya bayar untuk membantu dan meringankan beban peserta lain yang sedang sakit dan perlu biaya berobat. Dan sesuai informasi yang didapat, kini kita bisa menggunakan fasilitas pembayaran melalui auto debet untuk menghindari keterlambatan membayar, kalo terlambatkan nanti kartunya nggak bisa digunakan,“ tutup Abdi.(KA/ej)


File :