Rumah Sudah Dijual, Beruntung Transplantasi Ginjal Yang Biayanya Hampir Semiliar Ditanggung JKN-KIS

Penulis : Humas Dibaca : 416 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 11 Sep 2020 11:45:04

 

Padang, Jamkesnews - Lima tahun sudah berlalu pasca menjalani transplantasi ginjal, kini Jas (54) kembali produktif menjalani hari-hari sebagai seorang perwira kapal. Jauh sebelum sakit, Jas saban hari melakoni profesi yang sudah ia digeluti belasan tahun tersebut dengan tubuh segar-bugar.

 

Terpuruk dan tak berdaya pernah dijalaninya tatkala tabungan yang didapat selama bekerja, habis terkuras untuk berobat. Cuci darah dua kali seminggu selama satu tahun lebih, ditambah obat-obatan dengan harga mahal menguras semua harta-bendanya. Rumah yang menjadi tempat berteduh juga terjual setelah benda-benda berharga lain sudah terelebih dahulu dijual.

 

Suatu hari saat berobat dengan status umum, seorang petugas kesehatan di RS Cikini Jakarta bertanya tentang status penjamin Jas. Petugas itu pun menyarankannya untuk mendaftar sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional – Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS), sebab jika memakai biaya pribadi seorang pasien gagal ginjal tak akan mampu membayar karena biaya pengobatannya mahal. Padahal peserta JKN KIS yang mendaftar dengan iuran terendah Rp25.500 per bulan kala itu, semua pengobatannya pasti akan ditanggung.

 

"Awalnya saya kurang percaya dengan apa yang disampaikan petugas kesehatan itu. Masak hanya dengan membayar iuran sesuai kelas yang diinginkan semua biaya pengobatan pasien ditanggung. Karena belum percaya, saya pun searching di Google tentang apa itu program JKN-KIS," tutur Dwi, istri Jas kepada Jamkesnews beberapa hari lalu.

 

Setelah tahu apa manfaat JKN-KIS, Dwi tak lagi berpikir panjang. Dia daftarkan suami dan keluarganya sebagai peserta JKN KIS dan memilih kelas 1 dengan iuran pada saat itu Rp 60 ribu per jiwa per bulan.

 

"Setelah terdaftar beban saya terasa begitu ringan. Saya tak perlu pusing kemana mencari uang untuk cuci darah dua kali seminggu. Tapi karena bapak sudah tak ada gaji, kami pun memilih untuk pulang ke rumah orangtua saya di Padang. Anak-anak saya titipkan sama kakak di Payakumbuh, karena saya ingin fokus melayani pengobatan suami," terang Dwi.

 

Tak Dibedakan Pelayanannya

 

Di Padang, suami Dwi, berobat di RSUP M. Djamil Padang, Sumatera Barat. Di sana suaminya dilayani dokter Harnavi Harun, seorang dokter spesialis ginjal di RSUP M. Djamil Padang. Bagai pucuk dicinta ulam pun tiba kala itu, Harnavi sedang melakukan program transplantasi ginjal bersama timnya. Lalu Dwi dan Jas menjadi pasien pertama untuk transplantasi ginjal tersebut.

 

Meski potensi gagal dan berhasil berada pada persentase yang sama, tapi Dwi dan Jas tak merasa ragu sedikit pun. Lebih-lebih pelayanan yang didapat selama menjadi peserta JKN-KIS dan rutin menjalani cuci darah seminggu dua kali tak ada bedanya dibanding ketika sang suami terdaftar sebagai pasien umum, mereka berdua memantapkan diri.

 

"Tak ada beda pelayanan ketika suami saya tercatat sebagai peserta JKN-KIS dibanding saat berstatus pasien umum dulu. Yang membedakan ya biaya itu tadi. Kalau umum langsung uang tunai. Jutaan uang tunai melayang tiap hari,” tutur Dwi.

 

Kalau jadi peserta JKN-KIS, lanjut Dwi, cukup dengan disiplin bayar iuran per bulan sesuai kelas yang diinginkan. Jumlah iuran yang kami keluarkan sangat kecil dibanding biaya yang harus dikeluarkan ketika sebagai pasien umum dulu. “JKN-KIS benar-benar membantu saya dan keluarga," tambahnya.

 

Sementara untuk transplantasi ginjal, Dwi sendiri adalah penyumbang ginjal bagi suaminya. Sebab berdasarkan prediksi medis, tingkat kecocokan ginjal setiap pasangan atau orang terdekat dengan penerima transplantasi ginjal sangat tinggi.

 

Sampailah waktunya, pasangan suami istri itu menjalani transplantasi ginjal. Tepatnya pada 20 April 2015, Dwi benar-benar siap melakukan donor ginjal untuk suami tercintanya. Sebelum menjalani transplantasi ginjal sekali lagi Dwi dan Jas bertanya pada dokter tentang bagaimana dengan biaya-biaya operasinya.

 

“Dokter Harnavi mengatakan semua ditanggung BPJS Kesehatan, karena saya peserta JKN-KIS. Penjelasan itu membuat saya benar-benar siap. Dan tak sabar suami saya bisa pulih kembali, dengan ginjal yang diambil dari diri saya," cerita Dwi panjang lebar.

 

Andai kata biaya transplantasi ginjal yang mereka jalani tak ditanggung BPJS Kesehatan, ibu tiga anak itu mengaku tak akan sanggup membayarnya dengan uang tunai. Sebab setelah ditelusuri oleh Dwi, dana transplantasi ginjal, baik untuk penerima atau pun pemberi donor berkisar hampir setengah miliar rupiah, totalnya tinggal mengalikan dua. Belum lagi cuci darah dan pelayanan lain.

 

"Dari mana punya uang sebanyak itu, sebab keluarga kami ketika itu benar-benar tak punya uang lagi," ujarnya.

 

Transpalantasi ginjal tersebut sukses terlaksana. Kondisi yang kembali memberi harapan pada Jasril, istri, anak dan keluarga besarnya. Saat menjalani status sebagai pasien JKN-KIS, jelas Dwi, tak ada pembedaan yang dirasakannya dibanding dengan status pasien umum. Dari sana keluarga Jas mengaku sangat beruntung menjadi peserta JKN-KIS.

 

Perlahan namun pasti kondisi suami Dwi, kembali pulih. Dia pun memutuskan untuk kembali bekerja sebagai Chief Officer di sebuah kapal, agar ekonomi keluarga kembali pulih seperti sebelumnya. Pola hidup mereka atur dengan ketat, agar sehat tanpa penyakit.

 

Ketika tulisan ini hampir selesai ditulis, Jas sedang berada jauh di lautan lepas dengan kondisi signal tak bagus. Dia menitipkan pesan melalui WhatsApp Dwi agar masyarakat agar jangan menunggu sakit baru mendaftar. Sebab sakit tak mengenal waktu dan tentunya dengan biaya yang mahal untuk penyakit berat seperti yang dijalaninya.

 

"Jika sudah daftar tapi tidak sakit, bersyukurlah. Allah sayang dengan anda berarti. Iurannya untuk kami yang sakit, tidak akan sia-sia. Terima kasih JKN-KIS, tanpa program ini kami tidak akan sanggup membayar semua pengobatan yang saya jalani," katanya masih melalui pesan WhatsApp gawai pintar sang istri.


File :