Kholawi Sudah Pasrah Jual Rumah Jika Tidak Ada JKN-KIS

Penulis : Humas Dibaca : 824 Kategori : Berita Umum
Tanggal Posting : 05 Jan 2021 15:00:43


Tegal, Jamkesnews - Kholawi (61) merupakan salah satu peserta JKN-KIS yang terdaftar sejak awal berdirinya BPJS Kesehatan pada tahun 2014. Dulunya ia terdaftar sebagai Penerima Bantuan Iuran (PBI), lalu sejak 2016 lalu dia mengubah kepesertaannya menjadi peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) kelas 2 karena perekonomian keluarganya membaik. 


Tahun 2020 ini ia lalui bersama JKN-KIS karena ia harus rutin melakukan cuci darah (hemodialisa) dua kali dalam seminggu. Kholawi divonis dokter menderita gagal ginjal. Keluhannya diawali pada Maret 2020 lalu. Dia merasakan nyeri yang sangat hebat di bagian bawah perutnya. Ketika diperiksakan, mulabya Kholawi hanya didiagnosa mengalami hernia kambuh karena dulu Kholawi pernah menjalani operasi hernia pada 2005. Dan untuk mengetahui kondisinya, ia dirujuk ke Rumah Sakit Siaga Medika.


"Waktu dirujuk itu saya disarankan dokter untuk menjalani operasi hernia untuk kedua kalinya. Tapi ternyata hal itu harus ditunda hingga saya menjalani cuci darah terlebih dahulu. Ginjal saya bermasalah dan hal itu jelas tidak memungkinkan adanya tindakan operasi. Jadi saya baru dioperasi keesokan harinya setelah menjalani cuci darah dan ginjal saya stabil," kata Kholawi, Senin (28/12). 


Semenjak itu lengkap sudah diagnosa dokter, bukan hanya hernia yang dirasakan oleh Kholawi namun juga gagal ginjal. Hal itu mengharuskannya untuk rutin melakukan cuci darah dengan frekuensi yang semakin sering. Mulai dari sebulan sekali pada September 2020, hingga mulai dari November 2020 lalu Kholawi harus menjalani cuci darah seminggu dua kali.


"Kaget iya, karena sekarang saya bergantung dari iuran banyak orang, bukan hanya iuran saya saja. Saya jadi merasa kalau hidup saya ini bersandar pada bantuan seluruh rakyat Indonesia yang menjadi peserta JKN-KIS. Bagaimana tidak, untuk satu kali cuci darah itu tidak murah, paling tidak satu juta. Sedangkan saya kini harus rutin seminggu dua kali. Kalau bukan karena JKN-KIS saya jadi tidak yakin apa rumah saya ini masih bisa dipertahankan," lanjut Kholawi.


Cuci darah yang harus dijalani Kholawi tentunya membutuhkan biaya besar dari puluhsn iuran JKN-KIS peserta lainnya. Karena itu, melalui kisah ini Kholawi berharap masyarakat tidak lagi memandang sebelah mata JKN-KIS, karena nyatanya ia dapat bertahan hidup sampai setik ini berkat JKN-KIS. (ma/dp)


File :